Waktu Kecil

Dongeng Anak : Anak Buah Baluffi

Posted on: Desember 8, 2012

Sebuah kereta yang melewati jalanan berliku-liku tiba-tiba dihentikan. Sais kereta menarik tali kekang kuat-kuat. Seorang lelaki tinggi, bertopeng menodongkan sepucuk senapan panjang. Dipinggangnya tergantung dua buah pistol dan sebuah pedang pendek. Terdengar suara nyaring tapi lembut dari suatu tempat.

“Maaf, Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya. Hentikanlah perjalanan anda sejenak. Serahkan uang, arloji serta perhiasan anda sekalian. Bila tidak, maka akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Atau jika anda menodong saya dan saya mundur, anak buah sayalah yang akan menembak kereta ini!” Ujar pria perampok itu dengan suara Iembut.

Sebelah tangannya menunjuk ke semak-semak. Tampak beberapa perampok berjaga-jaga dengan senapan dibidik ke arah kereta itu. Di dalam kereta itu sebenarnya terdapat sejumlah lelaki bersenjata. Namun tidak ada yang berani melawan. Karena perampok itu mempunyai banyak anak buah.

Penumpang kereta itu terdiri dari bangsawan dan saudagar besar. Mereka terpaksa menyerahkan barang-barang mereka. Sang perampok memasukkannya ke dalam karung besar lalu membungkuk minta diri untuk bergabung dengan pasukannya. Kereta pun dipersilakan meneruskan perjaianan.

“Semoga Anda selamat sampai ke tujuan!” salam si perampok.

Perampok itu dikenal dengan nama Balufii. la meneror daerah celah pegunungan Umbrian di Italia. Namanya sangat termasyhur. Dia sangat sopan terhadap korbannya. Selalu muncul sendirian, sementara anak buahnya menjaganya dari kejauhan. Balufii pernah berkata bahwa ia sengaja tak membawa anak buahnya sebab,

“Mereka adalah bandit-bandit kasar yang haus darah!” ujarnya.

Selama bertahun-tahun Baluffi dan kelompoknya membuat para pengelana di daerah itu ketakutan. Suatu kali, sebuah kereta melintasi celah pegunungan Umbrian itu. Salah seorang penumpangnya adalah seorang tukang emas yang pemberani. la dalam perjalanan ke Roma, mengantar sebuah kalung yang sangat berharga.

Ketika Baluffi muncul di sisi jendela, tukang emas itu mencabut pistolnya. Namun rekan-rekan seperjalanannya merebut pistol itu. Sebab merasa khawatir Baluffi akan marah dan membunuh mereka. Penumpang lainnya lebih suka harta mereka diambil daripada dibunuh. Balufii menyeret tukang emas itu keluar dari kereta. Pakaiannya diperiksa. Kalung berharga yang disembunyikan di balik gespernya langsung diambil. Perampok itu iuga meminta barang-barang – berharga milik penumpang lainnya.

Tak seorang pun cedera dalam peristiwa itu. Kereta pun meneruskan perjalanannya. Sampai di pos pemberhentian berikut, tukang emas tadi melihat kereta berisi sepasukan tentara. Segera ia menemui perwira pimpinan pasukan itu. La menceriiakan kejadian yang baru saja dialaminya.

Lalu katanya, “Mari kita kembali ke ternpat i1u. Barangkali rombongan perampok itu belum pergi jauh. Atau mungkin sedang menunggu kereia iain Iewat.”

Nama Balufii memang sangat terkenal saat itu. Pemerintah menjanjikan sejumlah besar uang bagi siapa yang bisa menangkapnya, hidup atau mati. Sang perwira tergiur oleh janji hadiah itu. Maka ia pun menyiapkan anak buahnya untuk menembak perampok terkenal itu. Tukang emas menyamar sebagai wanita, la naik sebuah kereia, ditemani seorang serdadu berpakaian preman. Sisanya adalah tentara yang menyamar. Serombongan tentara mengikuti kereta dari beiakang. Keiika kereta tiba di tempat kejadian, para prajurit menyembunyikan diri di kelokan jalan. Baluffi pun muncul dari balik rimbunan semak.

Dihentikannya kereia itu sambil berkata, “Serahkan harta-benda kalian! Kalau iidak, anak buahku akan mencederai kalian.”

Hasil gertakannya tidak seperti yang diharapkan. Wanita itu tiba-tiba bangkit dan menyerang Balufii. Pengiringnya pun turun memberi bantuan. Baluffi merasa jiwanya terancam. la segera meiepaskan tembakan. Sebutir peluru menembus lengan sang putri, Baluffi pun lari menuju ke semak. Namun aneh, tak ada anak buahnya yang bertindak memberi bantuan. Mereka diam saja di sernak-semak. Barangkali menunggu aba—aba pimpinan.

Balufii kembali berleriak, “Mundur kalianl Kalau tidak, anak buahku akan menembak kalianl”.

Namun gertakannya tak berarti. Para serdadu langsung memuntahkan tembakan. Baluifi terkena peluru. Tubuhnya oleng dan tersungkur tak berdaya di tanah. Meskipun sudah begitu anak buahnya tetap tidak berbuat apa-apa. Mereka telap tenang, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Setelah diperiksa, ternyata anak buah Baluffi itu hanya orang-orangan yang diberi pakaian, senjata, dan diletakkan di balik sesemakan. Dari jauh mereka memang seperti manusia sungguhan. Hasil rampokan Balufii ditemukan di sebuah gua. Kantung yang menjadi tanggung jawab tukang emas berhasil kembali ke tangannya. Luka di lengannya tidak parah. Kedatangannya disambut dengan meriah. Ia dielu-elukan sebagai pahlawan. (Junarti)

Bobo, 17 Juni 1999

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Punya Lagu dan Chord anak-anak?

Ayo berpartisipasi dalam menjaga kelestarian lagu anak-anak agar dapat diperdengarkan kembali oleh mereka.

Jika kamu memiliki Lirik dan Chord lagu anak-anak yang belum ada di blog ini. Kamu bisa kirimkan ke email saya di contact@ridwanhanif.com

Ayo selamatkan generasi penerus bangsa dengan memberikan mereka porsi hiburan yang sesuai, Terima kasih!

"Makan Ayam"
%d blogger menyukai ini: